Jumat, 20 November 2009

CAHAYA DI ATAS CAHAYA

CAHAYA DI ATAS CAHAYA
(bag II)
Proses fotosintesa ini terjadi pada hijau daun dan hasil dari proses tersebut di alirkan ke seluruh bagian dari tumbuhan tersebut mulai dari daun hingga ke akar sehingga tumbuhan tersebut dapat tetap bertahan dan berkembang biak. Makhluk lain yang termasuk kecil dalam hal ukuran juga  memanfaatkan cahaya matahari untuk mengurai zat-zat yang ada dalam air untuk makanannya yaitu plankton. Ternyata begitu penting dan banyak manfaat cahaya yang dirasakan oleh makhluk dibumi baik yang secara langsung maupun tidak langsung.Lantas ada apa dengan cahaya?, apakah cahaya merupakan ruh kehidupan dari jagat semesta ini, layaknya nafas pada tubuh manusia?.
Cahaya di atas cahaya, dalam pengertian lain cahaya dipahami sebagai hidayah atau petunjuk dimana kendaraannya adalah Ilmu dan atau pengetahuan, maka dalam hal ini dipahami bahwa manusia yang mendapatkan cahayanya adalah manusia yang mendapatkan hidayah-Nya dan prosesnya bisa saja melalui pencarian yang dilakukan oleh yang bersangkutan melalui serangkaian pemikiran, penelitian, pengamatan, dan penentuan serta penetapan postulat-postulat sehingga sampailah pada suatu kesimpulan. Sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Ibrahim A.S dia melakukan hal-hal tersebut di atas untuk mencari Tuhannya, dan Allah pun memberinya hikmah dan petunjuk kepadanya sehingga beliau sampai kepada-Nya dan Allah SWT memuliakannya dalam firman-Nya sebagai berikut: Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (As-Saaffaat: 108).

2. Al-Hadits
Dalam sebuah hadits dari Rasulullah SAW di sebutkan bahwa “ Al’Ilmu nuurun”,  Ilmu diibaratkan sebagai cahaya, begitu pentingnya ilmu sehingga rasul SAW pun menyatakan dalam haditsnya bahkan dalam atsar-atsar Ilahi begitu banyak menyebutkan tentang keutamaan Ilmu sehingga orang yang berilmu diumpamakan bagaikan sebuah pelita yang bercahaya yang dapat menerangi dalam kegelapan tanpa harus terbakar dirinya oleh cahaya tersebut. Dalam konteks hadits di atas maka ilmu adalah sebagai penerang, sebagai penunjuk jalan, atau sebagai hidayah sehingga manusia tidak tersesat melangkah di dunia ini sebaimana ayat tersebut di atas ” “..Cahaya di atas cahaya, Allah memberikan cahaya-Nya (petunjuk) kepada siapa saja yang Dia kehendaki..”  dan Allah pun memuliakan dan meninggikan derajat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan berilmu sebagiamana dinyatakan dalam firman-Nya yang mulia QS al-Mujadilah ayat 11 sebagai berikut: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang memiliki Ilmu beberapa derajat”.
Pada ayat di atas ada keterkaitan antara Ilmu dan Iman dan kata Iman mendahului serta berkaitan langsung dengan kata meninggikan ‘arf, dari pada kata Ilmu sebagaimana dapat dibandingkan pada ayat berikut “ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.(An-Nisa)
 Singkatnya bahwa, ketaatan kepada Allah dan kepada Rosul adalah mutlak, sedangkan ketaatan kepada pemimpin adalah relative.
Berkaitan dengan Qs-Al-Mujadilah diatas, tanpa harus mempersoalkan mana yang lebih utama dan didahulukan, Iman atau Ilmu dan mana yang menjadi sebab atau akibat karena apa gunanya ilmu bila tidak dilandasi iman dan apakah mungkin seseorang akan sampai pada derajat Mukmin dan Muttaqin yang Mukhlis tanpa dilandasi dengan keilmuan yang benar. Walaupun masalah ilmu tidak dimasukkan dalam pondasi keislaman dan keimanan tetapi Ilmu adalah alat bantu yang paling utama sebab Ilmu layaknya sebuah kendaraan (alat bantu) yang akan mengantarkan sampai ke tujuan yaitu Tuhan semesta alam.
Bila ilmu dianggap sebagai salah satu penafsiran dari cahaya, maka ilmu apakah yang dimaksudkan tersebut sebab sedimikian banyaknya ilmu-ilmu saat ini. Pembahasan mengenai Ilmu tidak mungkin tidak akan berkaitan dengan aspek-aspek Ontology, Epistemology, dan Aksiology, karena suatu ilmu singkatnya akan berkaitan dengan apa bagaimana dan untuk apa .
Dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin Imam Ghazali mengatakan bahwa Ilmu di bagi kedalam dua (2) kelompok besar, pertama ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kewajiban seorang hamba pada Tuhan, maka menuntutnya menjadi kewajiban pribadi/individu seperti ilmu-ilmu tentang ibadah ritual. Dan kedua adalah ilmu-ilmu  yang masuk kategori menuntutnya adalah kewajiban umat manusia secara estafet yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sebab akibat, kebutuhan mengharuskan keberadaanya seperti ilmu kedokteran atau medis, ilmu fisika, dan ilmu pengetahuan lainnya yang kewajiban menuntutnya akan gugur manakala ada orang lain yang telah menuntutnya tetapi harus selalu ada dan inipun akhirnya bisa masuk pada kaidah yang pertama tadi. Dalam kesempatan ini tidak akan dijelaskan mengenai Ilmu dari sisi Ontology, Epistemology, dan Aksiology tetapi hanya selintas saja mengenai keterkaitan ilmu dengan pengertian cahaya tersebut di atas dimana ilmu sebagai pilar didapatkannya hidayah dari-Nya yang bersifat dua (2) arah.

3.Al-Kaun
Seringkali kita mendengar kata-kata al-kaun, atau kauniyyah ini tidak lain adalah dipahami sebagai alam semesta atau jagat raya karena berkaitan dengan kata “KUN” seperti firman-Nya pada QS: Yasin ayat 82 dimana Dia mengatakan Kun Fa Yakun maka terjadi lah alam semesta ini yang di awali dengan peristiwa ledakan maha agung (Big Bang) seperti yang terdapat pada Qs:Ar-Rahmaan ayat 37 di atas, dimana telur kosmik pecah menjadi partikel-partikel yang lebih kecil dan menyebar karena meningkatnya intensitas cahaya terhadapnya  dan semburat cahayanya bagaikan mawar merah inilah yang menurut para scientist sebagai awal mula terbentuknya alam semesta dan kehidupan ini serta titik awal berlakunya hitungan ruang dan waktu. Perkataan-Nya “Jadilah maka terjadi” adalah mengharuskannya terbentuk suatu wujud materi sebagai akibat dari perbuatan-Nya dari salah satu sifat-Nya yaitu al-Khalik melalui sebuah proses yang tentu saja ada hikmah dan pembelajaran yang bisa di ambil khususnya oleh manusia meskipun Allah mampu hanya mengatakan “KUN” saja. Dinisbatkannya kata kaun kepada alam karena alam adalah tempat terjadi dan keberadaan dari wujud materi dan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini sejatinya ada dalam pengetahuan, kehendak, dan perintah-Nya walaupun tidak semuanya ada dalam ridho-Nya.         
Dari sisi ilmu pengetahuan cahaya adalah sebuah definisi, bukan sebuah benda seperti menurut Isaac Newton (partikel-partikel ringan berukuran kecil/tipis) maupun Thomas Young (gelombang), (Quantum Physic Series)
Cahaya dapat bergerak (menyinari) dari sumber cahaya itu sendiri sampai jarak tertentu tergantung dari intensitas cahaya tersebut. Karena cahaya bergerak dengan jarak tertentu maka cahaya memiliki kecepatan untuk sampai pada jarak yang di tempuh oleh cahaya tersebut.
Bila cahaya memiliki kecepatan tertentu, ada sebuah pertanyaan: adakah produk teknologi dari hasil rekayasa ilmu pengetahuan yang memiliki kecepatan yang sama dengan cahaya?,
InsyaAllah berlanjut.


Wassalam.
Agus Safudi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar