Gerimis pun mulai berhenti,
Berganti dengan angin malam
Yang menusuk tulang dalam
Temaram tanpa bintang.
Dan disebelah barat sana,
Terdengar suara rebana
Sayup-sayup mengalunkan pujian
Pada Sang Penguasa Alam.
Neng Sri,..aku rindu pada pertemuan
Pertama di pinggir kolam
saat kita memancing ikan.
Biarlah aku tak cukup pintar
Untuk paham bait-bait rubaiyat Omar Kayam.
Biarlah aku tak pernah memiliki kesadaran
Seperti kesadaran Carl Gustav Jung
Dan biarlah aku tak pernah bisa mabuk
Semabuk Rumi ketika terbang bersama matsnawi.
Aku hanya seorang pemimpi yang memimpikan cinta
Bagai cinta Ulysses pada sang pujaan hati.
Tapi aku kan slalu mendengarkan suara hati
Yang selalu mengingatkanku akan diri
Yang pernah terucap dalam satu janji.
Aku mencintaimu hingga sekerat hati ini mati...
Berganti dengan angin malam
Yang menusuk tulang dalam
Temaram tanpa bintang.
Dan disebelah barat sana,
Terdengar suara rebana
Sayup-sayup mengalunkan pujian
Pada Sang Penguasa Alam.
Neng Sri,..aku rindu pada pertemuan
Pertama di pinggir kolam
saat kita memancing ikan.
Biarlah aku tak cukup pintar
Untuk paham bait-bait rubaiyat Omar Kayam.
Biarlah aku tak pernah memiliki kesadaran
Seperti kesadaran Carl Gustav Jung
Dan biarlah aku tak pernah bisa mabuk
Semabuk Rumi ketika terbang bersama matsnawi.
Aku hanya seorang pemimpi yang memimpikan cinta
Bagai cinta Ulysses pada sang pujaan hati.
Tapi aku kan slalu mendengarkan suara hati
Yang selalu mengingatkanku akan diri
Yang pernah terucap dalam satu janji.
Aku mencintaimu hingga sekerat hati ini mati...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar