Senin, 05 April 2010

...APA ADANYA.....

Dalam hidup ini kita sudah pasti akan menghadapi berbagai macam situasi, keadaan, kondisi-kondisi tertentu yang pada akhirnya mengharuskan kita untuk menetapkan pilihan-pilihan tentang langkah-langkah apa yang harus diambil, baik untuk mengatasi segala problematika hidup yang sedang dialami dan atau dihadapi atau mungkin untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi, salahkah, bolehkah?

Ada sebagian dari kita yang kencang dan terlihat begitu kuat dan semangat dalam hal-hal akhirat, benarkah?, dan ada sebagian kita yang mungkin prinsip hidupnya masih kental pada hedonisme atau hegemoni keduniaan, salahkah?

Dengan demikian maka bisa di pastikan bahwa dalam hidup dan kehidupan ini kita akan dan harus pandai memilah dan memilih apa yang baik, lebih baik, atau mungkin yang terbaik bagi kita. Apa yang menjadi dasar dan tolok ukur bisa bermacam-macam, karena sangat terkait erat dengan wacana keilmuan, pengetahuan, system nilai yang dianut dan banyak lagi yang lainnya. Karena didalamnya pasti akan ada unsur-unsur interpretasi, opini, kontemplasi dan lain sebagainya.

Bisa saja seseorang begitu kuat prinsip-prinsip hidupnya yang mengarah pada keagamaan karena memang latar belakang kehidupannya demikian, dan bersyukurlah orang-orang yang sudah ada pada tahapan ini smoga Allah memudahkan rizki dan kehidupannya di dunia sehingga ia tidak akan goyah dan akan selalu istiqomah. Dan memang dalam jiwa manusia ada unsur-unsur keilahiyan (wallahu ‘alam). Karena Dia telah tetapkan bahwa tidak diciptakannya jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya, selain itu ada sebuah hadits yang terjemahan bebasnya adalah sebagi berikut: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada nya, maka ia akan diberi pemahaman yang baik akan agamanya”.

Tapi bisa saja seseorang seolah-olah terlihat begitu kuat aspek keduniannya dan inipun tidak terlepas dari faktor-faktor internal yang ada pada dirinya yang sudah pasti terbentuk selama beberapa saat tertentu dan tentu juga di pengaruhi oleh faktor-fakor eksternal di luar dirinya dan yang terdekat adalah keluarga. Lantas bagaimanakah sikap seperti ini menurut anda?. Ya tentau saja dunia tidak boleh ditinggalkan atau diabaikan begitu saja soalnya kita ini kan masih hidup didunia dan Dia pun telah katakan dalam firman-Nya yang mulia sbb: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepada mu (kabahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada mu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. (QS 28:77)”, selain itu ada juga hadits yang terjemahan bebasnya adalah memerintahkan supaya kita berusaha di dunia seolalh-oleh kita akan hidup selamanya (wallahu ‘alam).

Dari prolog diatas, maka seorang anak manusia dalam menapaki hidup dan kehidupan didunia akan selalu berkaitan dengan dua sisi kehidupan yaitu dunia dan akhirat, atau dengan bahasa lain yang biasa kita dengar yaitu YIN dan YANG, dimana satu dengan lainnya saling terkait dan pengaruhi dan hal ini tidak bisa dihindari karena ini merupakan ketetapannya.

Bahwa seorang manusia ketika mengalami musibah, kesulitan, dan atau problematika hidup maka dianya akan kembali kepada-Nya, memperbanyak ibadah kepada-Nya baik dengan cara berdoa, memohon kepada-Nya, memperbanyak zikir, dan ibadah-ibadah lainnya. Tapi seorang manusia juga berhak mendapatkan kehidupan yang layak bila dia mampu mendapatkannya. Walaupun ada yang menghukumi bahwa dunia iu bersifat mubah, tidak begitu penting tapi bisa menjadi wajib hukumnya dalam konteks tertentu. Sebgaimana hukum mandi atau makan, dalam konteks tertentu bisa menjadi wajib walaupun kita makan bukan karena kita hobi dan hanya memikirkan makan, tapi justru makan untk hidup bukan hidup untuk makan. Sebab badan membutuhkan masukan gizi dan protein lainnya untuk kuat dan mampu menjalankan kewajiban atau beban taklif yang ada pada setiap pundak manusia, jadi dianggap sebagai sarana saja bukan tujuan. Tetapi ketika sebuah sarana keberadaannya menjadi harus ada maka akan mendekati menjadi sebuah wajib hukumnya dan saya yakin bahwa kita semua sudah memahami hal ini.

Dalam kaitan dengan judul di atas, yaitu APA ADANYA, seringkali kita mendengar perkataan, nasehat, petuah dan lainnya bahwa jalani kehidupan apa adanya. Sebenarnya bagaimanakah yang dimaksud menjalani kehidupan itu apa adanya?, apakah dengan cara mengusahakan nya tapi tidak perlu menggebu-gebu dan terlalu bersemangat, karena ada pendapat yang mengatakan semangat yang menggebu tidak mampu menembus tirai taqdir, atau justru harus mengusahakan semaksimal mungkin sesuai kemampuan yang ada pada kita?

Bila kita melihat air, maka air akan selalu bergerak untuk mencari tempat yang lebih rendah, maka ketika ada tempat yang lebih rendah air akan terus bergerak, tetapi ketika air menemui tempat yang lebih tinggi maka akan terlihat dia seolah-olah menjadi tidak mampu untuk bergerak. Tapi benarkah bahwa air hanya bergerak kebawah atau hanya mencari tempat yang lebih rendah, kalau begitu lantas dari manakah datangnya hujan? Mungkin ada yangmenjawab bahwa hujan datang dari Tuhan, karena memang tertulis pada al-Quran, memang benar tapi tidak bisakah diuraikan, tidak adakah proses didalamnya sehingga terjadi hujan? Saya kira hal ini pun tidak perlu dijelaskan karena saya yakin kita semua sudah paham baik aspek ontologis, epsitemologis, dan aksiologis nya.
Jalani hidup apa adanya. Misalkan ada seorang pria lajang maka sudah pasti taqdirnya adalah dia akan berjodoh dengan wanita, tapi siapakah wanita yang akan jadi jodohnya? Bahwa Tuhan sudah tetapkan bahwa jodohnya adalah seorang wanita baginya maka hal ini adalah mutlak benar adanya dan juga merupakan hukum alam, tapi tidak perlukah adanya usaha/ikhtiar oleh dirinya ? , sehingga anggaplah si pria bernama Fulan tersebut akan bertemu wanita yang bernama Fulanah dalam kehidupannya di dunia, apakah ini terjadi dengan sendirinya atau harus ada hal-hal tertentu dari dirinya?.

Mungkin terkadang kita terperangkap pada logika,paham, atau dialektika tertentu yang entah kita sendiri benar-benar memahaminya atau tidak sehingga mengakibatkan kita menjadi salah arah, salah tujuan, seperti itulah yang terkadang terlihat pada seseorang oleh orang lainnya (wallahu ‘alam). Tetapi saya meyakini bahwa setiap manusia pada dasarnya telah diciptakan dengan lengkap dengan segala instrument-instrument yang ada pada dirinya yang merupakan pemberian dari-Nya. Hanya saja bagaimana seorang manusia bisa memunculkan hal-hal tersebut mungkin tidak sama pada setiap diri ini ada yang mungkin dapat dengan cepat menemukannya tapi ada juga yang mungkin membutuhkan waktu lebih lama (wallahu ‘alam). Dan disinilah perlunya apa yang disebut dengan kesabaran, keikhlasan, ke ridhoan, harapan dan lain-lain.

Sekali lagi jalani apa adanya. Contoh lain, seperti seorang bayi yang baru saja dilahirkan kedunia, apakah dia bisa merespon apa yang disampaikan oleh orang tua nya kepadanya, bisa dibilang YA bisa juga dibilang TIDAK. Dikatakan TIDAK karena saya kira seorang bayi tidak dan belum mengerti dengan BAHASA yang di katakana oleh orang tuanya, sebab akalnya belum sempurna sehingga ia belum memahami apa-apa yang datang dari luar secara lahiriah atau faal. Tapi dia juga dikatakan YA bisa merespon stimulus atau RASA tertentu dari luar berupa adanya getar-getar halus yang dia rasakan olehnya melalui instrument-instrument tertentu yang ada pada diri si bayi tersebut, sehingga saya kira apa yang dialami pada masa-masa seorang manusia masih bayi adalah lebih mengarah pada aspek-aspek batiniah atau bersifat mental. Tapi bukan berarti seorang bayi tidak bisa menerima rangsangan tertentu yang bersifat lahiriyah, toh dia bisa menangis karena merasakan sakit tertentu misalnya, jadi dalam hal ini adalah mana yang lebih dominan terjadi pada saat-sasat tertentu. Atau mana yang lebih besar prosentase nya. Karena tidak mungkin tidak kehidupan yang terjadi dan ada pada dirinya pasti ada kaitannya dengan masa lalu atau masa kecilnya.

Dari beberapa paparan tersebut maka ternyata bahwa pengertian jalani apa adanya adalah sebuah proses yang harus dijalani oleh seorang manusia dimana didalamnya akan selalu terkait dengan dua hal atau dua sisi, yaitu sisi jasmani dan rohani, lahiriah dan batiniah, ketentuan/ketetapan dan amal perbuatan, dan lain-lain sebagaimana yang terjadi di jagat raya ini dimana ada siang ada malam, ada pria ada wanita, ada baik ada buruk, susah senang, sedih dan gembira , kekurangan dan kelebihan dan lain-lain. Karena kehidupan adalah layaknya sebuah perjalanan dari satu titik ketitik berikutnya dan persinggahan terakhir didunia adalah kematian yang justru akan menjadi gerbang awal dari tahapan kehidupan berikutnya. Dari dia ada dalam keadaan posisi tidur (telentang atau tengkurap), merangkak, berdiri, berjalan, dan berlari dan kem udian akan kembali tertidur dalam sebuah penantian.

Maka, hidup adalah sebuah proses dan proses ini akan berakhir sesuai dengan ketetapan-Nya.
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui atau menasehati, tapi sekedar renungan diri ini saja dan kalaupun dianggap menasehati toh yang keluar hanya sebuah jari sedangkan kedalam ada empat jari. Bisa jadi opini dan interpretasi ini salah dan perlu koreksi.

Agus Safudi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar