Kamis, 27 Januari 2011

HAKIKAT (sebuah opini)

Ketika kita mendengar kata hakikat maka umumnya yang terbayang adalah sesuatu yang menunjukkan keutamaan, ketinggian dari sesuatu yang lain. Umumnya dipahami bahwa hakikat yang berkaitan dengan manusia adalah berkaitan dengan jiwa atau ruh sebagaimana pendapat-pendapat yang berkembang baik dari sisi agama maupun filsafat. Tapi bagaimanakah sesuatu dikatakan lebih utama dari suatu yang lain bila keberadaannya tidak muncul ke permukaan dalam bentuk laku tertentu?

Bagaimana kita tahu akan inner beauty bila keberadaannya tidak bisa kita saksikan ataupun kita dengar?, Bukankah kesempurnaan jiwa dan ruh seseorang termanifestasikan dalam wujud perbuatan dan perkataan yang disimbolkan secara lahiriah?.
Sebagai contoh adalah keutamaan seorang penari dan kesempurnaan tariannya akan tampak atau tersaksikan manakala penari tersebut dapat menarikan sebuah tarian yang indah dan cantik yang mengakibatkan kekaguman orang yang menyaksikannya walaupun dari sisi lahiriah tertentu penari tersebut tidaklah begitu cantik misalnya, atau misalkan seorang penyair yang sedang membawakan sebuah syair sehingga orang yang mendengar dan menyaksikan bagaikan tersihir.

Bukankah akibat berkaitan dengan sebab?, jika sebab dihilangkan maka akibat tidak akan muncul. Dan menurut saya akibat yang bisa muncul secara mandiri tanpa harus melihat pada keberadaan sebab semata-mata mutlak hanya perbuatan Tuhan saja atau segala sesuatu yang berkaitan langsung dengan keagungan-Nya.

Maka opini saya yang dikatakan dengan hakikat manusia adalah adanya integrasi yang sempurna, selaras, dan seimbang dari ketiga unsur yaitu jasmani, akal, dan ruhani. Dan hakikat manusia menurut saya adalah hasil dari integrasi yang sempurna dari ketiga unsur tersebut, dan kesempurnaan tertinggi yang pernah ada pada manusia adalah pada para kekasih-Nya.
Maka hakikat terkesan ada tapi tidak ada, tidak ada tapi ada.





by: agus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar