Seorang anak manusia terlahir ke dunia dalam keadaan suci,..terlepas bahwa proses awalnya didasarkan bukan karena cinta yang suci,..karena akibat pergaulan bebas,..atau tindakan asusila lainnya. Sebab semua proses yang terjadi pada saat bercampurnya antara sel telur dan sperma sekalipun bertentangan dengan agama,..melanggar hukum syariat,..atau masuk kategori perbuatan maksiat sekalipun tetapi harus dingat dan bisa memilahnya bahwa pada saat itu terjadi belum dikatakan manusia,.ia dikatakan telah menjadi manusia utuh (seorang anak) pada saat telah terbentuk daging,..tulang belulang dan telah ditiupkan ruh oleh Tuhan kepada nya.
Bukti bahwa seorang anak suci adalah karena sebelum dia terlahir kedunia memang seorang anak mengalami hidup suci yaitu di dalam perut(rahim) ibunya,.ia mendapatkan makanan dalam bentuk yang suci karena telah tersaring oleh plasenta walaupun mungkin saja ketika si ibu memakan makanan tersebut secara fisik/lahiriyah masih belum suci (bersih) karena kondisi-kondisi tertentu tetapi Tuhan telah mempersiapkan fasilitas tersebut sehingga apa yang diterimanya telah tersucikan dan juga adanya doa yang insyaallah bisa mensucikan makanan tersebut dari sisi bathiniyah.
Bukti lain bahwa seorang anak hidup suci ketika dalam kandungan adalah seberapa banyak ia mendapat makanan dari ibunya pernahkah kita mendengar bahwa ada janin yang mengeluarkan kotoran dan keracunan karena kotoran tersebut?,..atau adakah seorang ibu hamil yang keracunan karena kotoran janinnya?,..rasanya kita belum pernah mendengar mengenai hal-hal tersebut, kalaupun ada mungkin sudah berapa banyak fakta-fakta medis membuktikannya. Itulah hidup suci yang pernah dialami seorang anak manusia.
Setelah seorang anak lahir kedunia maka apakah ia akan tetap bisa menjaga kesuciannya tergantung banyak hal yang salah satunya dan paling utama adalah peran orang tua itu sendiri, bagaiman orang tua bisa memberikan lingkungan yang baik dan kondusif bagi perkembangan anaknya baik dari sisi mentalitas maupun fisk, dan yang terpenting adalah orang tua harus bisa menempatkan diri sebagai fasilitator bukan eksekutor sebab ini akan berpengaruh besar pada perkembangan mentalitas dan fisik anak tersebut.
Walaupun ada dalil yang menyebutkan bahwa seorang anak bisa menjadi musuh bagi orang tuanya tetapi banyak dalil lain baik yang tersurat maupun tersirat bahwa keberadaan anak adalah merupakan anugrah, rizki dari Allah yang tak ternilai jika dibandingkan dengan berapapun banyaknya materi, karena begitu banyak para calon orang tua atau pasangan suami istri yang mau mengeluarkan berapapun besarnya dana demi mendapatkan seorang buah hati yaitu anak.
Dengan segala keluguan dan kepolosannya seorang anak mampu menghilangkan keruwetan pada orang tuanya.
Dengan kejenakaannya bercerita seorang anak mampu menghibur orang tuanya walaupun yang diceritakannya adalah hal-hal yang biasa.
Dengan segala kebutuhan dan keinginannya seorang anak mampu membuat orang tuanya memiliki motivasi untuk bekerja lebih keras dan lebih giat dalam berusaha.
Tapi terkadang kita para orang tua lupa karena kesibukan sehingga seolah-olah tidak memiliki waktu bagi para anak walaupun hanya sekedar 10 menit saja hanya untuk membacakan cerita pengantar tidurnya yang akan mengantarkannya pada mimpi indah didunianya, atau menemaninya bermain dengan permainannya. Seorang anak akan bangga terhadap orang tuanya bila kita sebagai orang tua mau mendekatinya baik sebagai kawan baginya atau sebagai orang tua baginya, atau kita penuhi hal-hal yang dibutuhkannya demi kebaikannya walaupun tidak harus selalu materi dan dia akan bangga menceritakan anda sebagai orang tua yang baik baginya kepada kawan-kawannya.
Bila seorang anak diumpamakan tumbuhan maka bagaimanakah kita para orang tua merawatnya sehingga ia akan menjadi layaknya tumbuhan yang baik, indah dipandang mata dan tetap berada pada fitrahnya yaitu kesucian.
Peranan orang tua sangatlah penting terutama dalam hal perkembangan IQ, EQ, dan SQ bagi anaknya, sebab bila ke tiga hal ini terlupakan atau hanya salah satu nya saja maka akan ada kekurangan pada diri anak dan ini akan dirasakan olehnya ketika anak beranjak dewasa. Anak yang baik dalam IQ nya belum tentu menjadi anak manusia yang berhasil dalam menapaki kehidupan yang semakin keras, dia hanya pintar dari sisi akademis saja tetapi manakala kegagalan hidup dialami mungkin ia akan rapuh dan mudah tumbang atau dia akan mudah tergelincir dalam kehidupan yang tidak baik dimana zaman sekarang sangat mungkin hal itu terjadi.
Selain anak merupakan anugrah dan rizki yang tak ternilai,..anak juga merupakan amanat dari Tuhan kepada para orang tua dan bila kita para orang tua tidak mampu mendidik dan mengarahkannya dengan baik maka ia akan menjadi musuh bagi kita para orang tua dan terutama akan memberatkan kita pada hari perhitungan nanti, karena salah satu tugas kita para orang tua adalah kita harus mampu mengantarkan dan mengenalkannya pada Tuhan-nya (wallahu 'alam).
(Tulisan singkat ini tidak bermaksud mengajari ataupun menggurui tapi sekedar ungkapan rindu seorang ayah terhadap anak-anaknya yang jauh diseberang mata).
Hadanallahu wa iyyakum ajma'in.
Wasslam.
a.s.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar