Jumat, 01 Januari 2010

Nama-mu Pertiwi

Namamu adalah Pertiwi,
dahulu kau banyak dikagumi kaum manca negara dari seberang negeri.
Kau bagaikan bunga melati yang harum semerbak nan mewangi,
mengundang kumbang untuk datang, hinggap, dan menciumi
sambil memberi benang sari demi tersatunya dengan putik sari yang kau miliki.


Tapi kini kau tak lagi mewangi, bunga-bunga mu berguguran
dan tunas-tunas mu rontok di terjang ganasnya tangan-tangan kehidupan.
Semburatmu telah pudar, akibat cengkeraman kuku-kuku kotor dan keserakahan
yang menjamah dan merengkuh mu dengan paksaan.


Akar mu telah busuk, batangmu telah mengering, dan daunmu mulai berguguran
di hempas badai dan di terjang gelombang peradaban.


Kau tak mungkin di okulasi, haruskah kau di amputasi?
lantas bagaimana kau dapat tegak berdiri tanpa kedua kaki, berlari
dan mengejar ketertinggalan demi tunas-tunas muda dan kuncup
bunga yang harus kau naungi.


Kini masa telah berganti, smoga sirna segala badai dan gelombang
dan berganti dengan semilir sejuk angin yang kan merajut segala angan dan harapan.


Ada setitik asa dari anak negeri,
berharap masih tersisa sedikit hati nurani,
yang menguatkan mu untuk berdiri dan berlari...  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar