Rabu, 03 Maret 2010

KEYAKINAN atau KEPRIHATINAN….


Setiap orang Indonesia yang pernah tinggal di luar negeri baik itu untuk sekolah, bekerja, bisnis, dan keperluan lainnya pasti akan pernah dihadapkan pada pertanyaan kecil dan ringan mengenai nilai tukar, tentu saja nilai tukar dari uang di Negara bersangkutan dengan rupiah, dan ini tidak mungkin tidak pasti akan di alami oleh siapapun yang pernah tinggal di luar negeri begitu juga dengan saya pada saat saya telah mengenal dan akrab dengan mereka.



Suatu ketika seorang kerabat dari Hemamalini dari garis keturunan nabi Adam pernah menanyakan pada saya berapakah nilai tukar dari satu (1) riyal (SAR), saya bilang pada saat itu adalah 1 SAR = Rp. 2.700,- dan mereka pun tercengang, lantas dianya mengatakan bahwa saya adalah seorang jutawan sebab dengan gaji sebagai pegawai yang saya dapat bila ditukarkan dengan rupiah maka mereka berpikir begitu banyak uang yang saya dapat setiap bulannya yang tentu saja belum pernah mereka dapatkan makanya mereka heran.
Kemudian adalagi warga pribumu keturunan Aisyah r.a. dari garis keturunan nabi yang mulia Muhammad saw yang menanyakan hal yang sama, maka saya jawab juga dengan hal yang sama seperti ketika saya jawab pada penanya sebelumnya keturunan, maka warga pribumi pun mengatakan saya adalah orang kaya di negara saya (amien mudah-mudahan jadi doa).


Saya tidak tahu apakah pertanyaan pertanyaan itu hanya sekedar pertanyaan iseng belaka atau ada maksud lain, dan saya jelaskan pula bahwa (bohong sedikit karena kecintaan saya yang masih tersisa pada indoneisa) nilai tukar terkecil yang di cetak oleh pemerintah Indonesia adalah seribu rupiah yang kalo di Negara-negara lain adalah satu dolar, satu real, satu peso dan satu ringgit malaysaia (agak malu dibandingkan dengan yang satu ini) dan lain sebagainya.


Setiap ada pertanyaan-pertanyaan senada selalu saya coba keluarkan jurus-jurus makro dan mikro ekonomi yang menyebabkan kenapa hal ini terjadi tapi ya tetap saja mereka paling kalo tidak mencibir ya nyengir kuda, akh..hali wali kata orang arab nya mah alias masa bodo.
Saya jelaskan pada mereka bila mereka bertanya bahwa Negara kami adalah Negara yang memiliki harga diri dan kepribadian, karena Negara kami tidak mau dianggap masuk kedalam kategori Negara miskin dan harus berada di bawah pengawasan bangsa-bangsa atau pun menjadi bagian dari Negara persemakmuran.
Walaupun Negara kami memiliki banyak hutang luar negeri tapi karena Negara kami adalah Negara yang kaya akan sumber daya maka Negara kami dianggap masih mampu untuk membayar hutang-hutang luar tersebut dengan sumber daya yang ada dan untuk efisiensi serta penghematan bahan baku pencetakan uang maka dihapuskan lah nilai pecahan satu rupiah karena bisa anda bayangkan berapa banyak seorang ibu harus bawa uang kepasar ketika beliau akan beli sayur mayor, tempe, dan lauk pauk lainnya, mungkin beliau harus bawa unag sekantong keresek plastik, walaupun saya sendiri tidak yakin dengan dasar argument yang saya kemukakan entah benar entah tidak yang penting sebagai orang Indonesia saya tidak boleh kalah berargumen dengan mereka (gengsi dhonk!!…)



Saya juga ceritakan pada mereka begitu banyak perusahaan-perusahaan kelas dunia yang beroperasi di indonesia baik dari ujung barat sampai timur Indonesia, baik dari bidang jasa sampai manufaktur / industry, atau dari produk kerajinan home industry sampai yang hitech. Tanpa harus saya ceritakan apakah manfaat dan keuntungannya dirasakan oleh semua rakyat Indonesia dari kalangan pejabat sampai rakyat,..atau dari kalangan ningrat sampai yang melarat.
Yahh,.. sekali lagi mereka hanya nyengir kuda, saya asumsikan saja bahwa mereka bodoh dan tidak mengerti, kenapa? karena ini penting menyangkut harga diri dari sebuah bangsa,.sekali lagi harga diri sebuah bangsa yang katanya bangsa yang beradab dan berbudaya.



Pada kesempatan lain adalagi hal yang mereka pertanyakan dan agak sedikit heran,.mereka bilang kenapa orang Indonesia yang diluar negeri agak kurang berani dan kurang baik dalam komunikasi khususnya bahasa Inggris?,..(ini udah agak keterlaluan apa mereka pikir kita-kita ini orang bodoh yang gak pernah nelan bangku sekolahan.). Saya bilang pada mereka karena kami adalah bangsa yang memiliki budaya yang tinggi dan menghargai jasa para pahlawan dan para pendiri bangsa ini dan selain itu juga bahwa kita ini terdiri dari suku bangsa yang beragam maka untuk menyatukan itu digunakan lah bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia, dalam segala lini dan kegiatan kita selalu gunakan bahasa Indonesia, sehingga saking bangganya dengan bahasa persatuan tersebut seolah-olah kita melupakan bahasa pergaulan internasional tetapi bukan berarti kita tidak mengerti dan tidak pernah mempergunakannya, sebab diluar bahasa Indonesia di Negara kami hanya menempati urutan no 2 atau no 3 mungkin setelah bahasa daerah, seperti itulah yang saya jawab dengan penuh kebanggan dan keyakinan.


Tapi ketika saya kembali dari bekerja dan sedang sendiri maka saya memikirkan apa-apa yang mereka katakana dan tanyakan, yah..kenapa ini harus begini dan kenapa itu harus begitu…
Apakah semua yang saya jawab dan katakana menunjukkan KEYAKINAN atau justru KEPRIHATINAN…