(Bag I)
Ketika kita dengar kata cahaya maka apakah yang terbersit dalam pikiran kita, pasti berkaitan dengan sinar terang, bayangan, atau hal-hal lain yang membut sesuatu menjadi terlihat jelas.
Karena cahaya,
Maka ada warna.
Karena cahaya,
Sesuatu menjadi nyata.
Karena cahaya,
Kegelapan menjadi sirna.
Jadi apakah cahaya itu?, mari kita bahas berdasarkan referensi yang ada.
- Al-Qur’an.
Dalam al-Qur’an surat an-Nuur, dijelaskan bahwa”..Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah mengetahui segala sesuatu..”. Itulah yang disebut cahaya mutlak/absolute. Karena cahaya-Nya menyinari alam semesta dengan tiada henti. Sejatinya Dia menyinari alam semesta ini dengan terus menerus tanpa henti seperti yang diterima oleh alam semesta ini dan ini di refleksikan oleh benda-benda yang ada di alam semesta ini yang terus menerus menerima cahaya-Nya seperti bintang-bintang dan planet-planet lainnya walaupun yang terlihat oleh manusia seolah-oleh mereka bergantian terlihat dan bersinar. Terlihatnya bintang dan planet-planet lain bersinar secara bergantian (pada malam hari) disebabkan karena kerja dari benda lainnya sehingga terjadilah perputaran siang dan malam dimana siang manusia/makhluk melakukan aktifitas dan malam mereka beristirahat dan inilah salah satu hikmah mengapa cahaya dan sinar terang matahari menjelang malam di gantikan oleh cahaya bulan yang memantulkan cahaya matahari dengan tidak terlalu panas layaknya siang hari bahkan pada daerah tertentu mungkin sinar bulan tidak terlihat dan cenderung gelap sehingga manusia dan makhluk lain dapat tidur dengan lelap untuk beristirahat karena kelelahan akibat aktifitas di siang hari yang mereka lakukan walaupun pada kenyataannya di jaman ini ada juga yang melakukan aktifitas di malam hari karena kondisi-kondisi tertentu dan tentu saja pelaksanaan aktifitas yang dilakukan pada malam hari tersebut sudah pasti dilakukan pada tempat tertentu yang cukup pencahayaannya dengan adanya sinar terang dari alat bantu seperti lampu dll.
Cahaya adalah sesuatu yang abstrak, dia tidak terlihat sebagai suatu wujud materi yang dapat ditangkap oleh pancaindera, tetapi keberadaannya akan diketahui manakala ada bayangan yang dihasilkan dari cahaya tersebut atau terlihatnya suatu wujud materi tertentu karena efek sinar terang dari cahaya tersebut. Karena fungsi cahaya adalah menyinari segala sesuatu yang terjangkau olehnya. Dan sumber cahaya yang paling utama adalah berasal dari Dia, Allah Azza wa Jalla dan itulah yang disebut dengan cahaya di atas cahaya atau Nur Ilahi. Dan cahaya-Nya menjadi perantara terjadinya benda-benda lain di alam semesta ini seperti peristiwa Big-bang, pecahnya telur kosmik karena pemanasan cahaya yang tinggi sampai dengan intensitas tertentu menjadi partikel-partikel lain yang akhirnya terbentuklah alam semesta pada mula pertama yang di abadikan pada firman-Nya yang mulia Qs:Ar-Rahmaan ayat 37 sbagai berikut: “…
Dan salah satu hijab makhluk terhadap Wajah-Nya adalah cahaya-Nya sebab semua makhluk di alam ini tidak ada yang sanggup untuk melihat Wajah-Nya kalaupun di perlihatkan maka yang terjadi adalah seperti apa yang pernah di alami oleh nabi Musa A.S., yaitu hancur dan porak poranda. Oleh karena itu Dia mengatakan bahwa Aku tidak akan bisa dilihat di dunia ini dan ini dikuatkan pula oleh hadits-hadits dari nabi Muhammad SAW yang teks bebas nya diantaranya menyatakan bahwa melihat Allah adalah nanti di akhirat bukan di dunia ini dan ketika melihat-Nya di akhirat nanti bagaikan melihat bulan purnama, maksudnya adalah dari mana saja kita memandang maka yang terlihat adalah sama persis dan seperti itulah fenomena bulan purnama.
Cahaya di atas cahaya berarti cahaya tersebut berlapis-lapis yang maksudnya bahwa selain dari cahaya-Nya maka ada juga cahaya-cahaya lain dibawahnya yang di hasilkan/di pantulkan oleh benda-benda di alam semesta ini. Untuk memahami tekstual ayat 34 Qs. An-Nuur ini diperlukan tafsir atau takwil karena bisa saja pengertiannya adalah hakiki cahaya itu sendiri atau bisa juga makna yang timbul adalah bersifat majazi yang dalam hal ini bisa saja di pahami sebagai hidayah atau petunjuk melalui ilmu dan atau pengetahuan yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki sebagaimana firman-Nya berikut ini:
“..Cahaya di atas cahaya, Allah memberikan cahaya-Nya (petunjuk) kepada siapa saja yang Dia kehendaki..”
Dengan cahaya-Nya, alam semesta menjadi terlihat
Dengan cahaya-Nya, manusia menjadi tidak tersesat
Dengan cahaya-Nya, Allah menunjukkan keberadaan-Nya
Dengan cahaya-Nya, semua makhluk bersyukur kepada-Nya
Cahaya adalah salah satu nama (asma) yang dimiliki-Nya seperti yang terdapat dalam al-Asma-al-Husna yaitu An-Nuur yang artinya Yang Maha Memiliki Cahaya/Yang Maha Bercahaya. Karena cahaya adalah salah satu nama-Nya, maka nama dan sifat berkaitan erat dan sifat-Nya melekat hanya pada Dzat-Nya, maka cahaya bukanlah makhluk sebab semua makhluk adalah hasil dari salah satu af’al-Nya dari nama yaitu Al-Khalik, dan perbuatan-Nya dengan nama dan sifat-Nya ini adalah menyinari alam semesta.
Diantara benda-benda di alam semesta ini yang memancarkan atau memantulkan cahaya maka yang paling utama dalam menghasilkan cahaya ke bumi adalah matahari yaitu sebagai sumber cahaya utama di muka bumi ini sebab cahaya matahari inilah yang menyinari bumi di siang hari. Dan cahaya matahari ini sebagai perantara adanya kehidupan di bumi ini karena beberapa makhluk yang ada di bumi menjadikan cahaya matahari sebagai input, masukan, atau bahan baku dari makhluk-makhluk tertentu yang ada di bumi yang outputnya atau hasilnya bias saja berupa energy gerak, uap, dan zat-zat lainnya yang umumnya terjadi pada makhluk-makhluk botani atau tumbuhan yang kita kenal dengan nama proses Fotosintesa.
InsyaAllah berlanjut.
Wassalam,
Agus Safudi.
